scroll to top Call Petrane whatsapp Petrane

Bagaimana Geotextile Kurangi Emisi Karbon dalam Konstruksi?

Bagaimana Geotextile Kurangi Emisi Karbon dalam Konstruksi?

Seberapa besar jejak karbon sebuah proyek konstruksi? Menurut data terbaru dari UN Environment Program, sektor konstruksi mengonsumsi sekitar 32% energi global dan menyumbang 34% dari total emisi karbon dunia. Angka ini menunjukkan betapa besarnya tekanan lingkungan yang muncul dari setiap proyek pembangunan, mulai dari penggunaan material, proses transportasi, hingga pengoperasian alat berat.

Di tengah kebutuhan untuk membangun infrastruktur yang semakin kompleks, industri konstruksi dituntut untuk mengadopsi solusi yang lebih efisien dan rendah emisi. Namun, jangan khawatir; ada material yang bisa menjadi solusi, yaitu geotextile. Mengapa demikian?

Kegunaan Geotextile untuk Konstruksi yang Lebih Ramah Lingkungan

Penggunaan geotextile mampu membantu menurunkan jejak karbon tanpa mengorbankan kualitas, kekuatan, maupun durabilitas proyek. Sebab, ada banyak manfaatnya seperti di bawah ini:

Mengurangi kebutuhan material konvensional

Proses ekstraksi dan produksi material seperti batu, pasir, atau kerikil memiliki jejak karbon yang cukup tinggi. Terutama, karena penggunaan alat berat dan aktivitas penambangan. Lalu, bagaimana kegunaan geotextile untuk konstruksi bisa membantu memecahkan masalah tersebut?

Fungsi separasi, filtrasi, dan stabilisasi tanah yang dimiliki geotextile dapat menggantikan sebagian kebutuhan material agregat. Misalnya, ketika kamu memasang geotextile sebagai lapisan pemisah antara tanah dasar dan material timbunan, struktur tanah menjadi lebih stabil. Sehingga, kamu tidak membutuhkan lapisan agregat tambahan.

Dengan kata lain, semakin sedikit material yang harus diekstraksi, diangkut, dan diproses, semakin rendah emisi karbon yang dihasilkan.

Menurunkan risiko degradasi material

Material konstruksi yang cepat rusak akan memicu kegiatan perbaikan dan pemeliharaan yang intensif. Proses ini tentu membutuhkan energi tambahan, penggunaan alat berat, dan transportasi material baru. Pada akhirnya, semuanya akan menghasilkan emisi karbon yang lebih besar.

Dalam konteks ini, kegunaan geotextile untuk konstruksi bisa memperkuat lapisan tanah dan menjaga stabilitas struktur, sehingga meminimalkan terjadinya penurunan lahan, erosi, atau kerusakan fondasi. Dengan stabilitas yang lebih baik, umur struktur pun lebih panjang. Artinya, siklus pemeliharaan menjadi lebih jarang dan penggunaan material tambahan dapat ditekan.

Mengurangi waktu dan energi pemasangan material

Berbeda dengan material konstruksi padat seperti beton atau agregat yang membutuhkan alat berat dalam jumlah besar, geotextile relatif ringan dan mudah dipasang. Proses penyebaran geotextile di area proyek akan memakan lebih sedikit waktu, dengan peralatan yang lebih sedikit, dan melibatkan tenaga yang lebih efisien.

Dengan kata lain, waktu instalasi yang lebih singkat berarti kamu tidak perlu terlalu sering mengoperasikan alat-alat berat, sehingga konsumsi bahan bakar juga akan berkurang. Selain itu, kamu bisa menjadwalkan perjalanan alat menuju lokasi proyek dalam frekuensi lebih jarang.

Dalam skala proyek besar, efisiensi kecil seperti ini bisa memberikan dampak signifikan terhadap penurunan emisi karbon total. Kemudahan instalasi juga membuka peluang untuk memperluas penggunaan geotextile pada proyek-proyek yang membutuhkan pelaksanaan cepat sekaligus ramah lingkungan.

Mengurangi emisi karbon pengangkutan material

Transportasi merupakan salah satu sumber emisi terbesar dalam konstruksi. Mobilisasi material konvensional seperti agregat, batu, atau pasir umumnya membutuhkan truk besar dengan frekuensi perjalanan tinggi.

Karena geotextile mampu menggantikan sebagian material tersebut, kebutuhan transportasi menjadi jauh lebih rendah. Volume geotextile yang besar bisa dikemas dalam gulungan yang ringan dan mudah diangkut, sehingga jumlah kendaraan pengangkut pun berkurang, dan konsumsi bahan bakar jadi lebih efisien. Di saat yang bersamaan, polusi udara akibat asap kendaraan juga menurun secara signifikan.

Bisa digabungkan dengan material sisa konstruksi

Salah satu tantangan besar dalam dunia konstruksi adalah menumpuknya limbah material seperti pecahan beton, sisa batu, atau tanah galian. Tanpa pengelolaan yang tepat, limbah ini dapat menjadi menimbulkan polusi tanah dan air yang membahayakan kesehatan. Selain itu, limbah padat yang dibiarkan terbengkalai begitu saja bisa mengakibatkan cedera bagi orang-orang sekitar.

Dengan adanya geotextile, kamu bisa menggunakan kembali material sisa konstruksi tersebut sebagai bagian dari struktur timbunan. Berkat fungsi pemisahan dan penguatannya, geotextile mampu menjaga agar material campuran tetap stabil dan tidak bercampur dengan tanah dasar yang lebih lunak.

Pada akhirnya, melalui strategi ini, kamu bisa mengurangi kebutuhan material baru, limbah yang harus dibuang ke TPA, transportasi limbah dan pembelian material baru, dan memperpanjang umur struktur berkat stabilisasi yang lebih baik.

Mencegah pencemaran air dan tanah akibat konstruksi

Pencemaran air dan tanah sering terjadi ketika partikel halus dari tanah galian atau limbah konstruksi masuk ke badan air. Jika tidak dikendalikan, sedimentasi berlebihan dapat merusak ekosistem sungai, saluran drainase, hingga irigasi.

Di sisi lain, geotextile berfungsi sebagai lapisan filtrasi yang mampu menahan partikel tanah sambil tetap memungkinkan air mengalir. Fungsinya sangat diperlukan terutama untuk proyek drainase, pembangunan dinding penahan tanah, stabilisasi lereng, dan instalasi area resapan. Dengan mencegah sedimentasi dan menjaga kualitas air, geotextile membantu menekan dampak ekologis yang sering muncul dari proyek konstruksi.

Tips Memilih Geotextile yang Ramah Lingkungan

Untuk mendapatkan manfaat ekologis yang optimal, kamu perlu memilih geotextile yang paling sesuai dengan kebutuhan proyek konstruksi.

Pertama, pastikan tipe geotextile yang digunakan benar-benar cocok dengan kondisi proyek. Sebab, jenis geotextile yang tepat akan menghindarkan penggunaan material berlebih sekaligus menekan emisi yang terkait dengan produksi maupun pemasangan. Geotextile woven, misalnya, lebih tepat digunakan untuk stabilisasi tanah dan kebutuhan perkuatan, sedangkan geotextile non-woven biasanya dipilih untuk fungsi filtrasi dan sistem drainase.

Selain itu, penting juga memperhatikan daya tahan dan umur pakainya. Geotextile berkualitas tinggi mampu bertahan terhadap tekanan, paparan UV, serta kondisi tanah yang agresif, sehingga tidak memerlukan penggantian dalam waktu dekat. Semakin lama umur pakainya, semakin kecil jejak karbon yang dihasilkan sepanjang siklus penggunaannya.

Tak kalah penting, kamu juga perlu memastikan bahwa material yang digunakan memenuhi standar lingkungan atau diproduksi melalui proses yang lebih efisien, termasuk potensi penggunaan bahan daur ulang.

Terakhir, pilihlah geotextile yang dikemas secara ringkas dan memiliki bobot ringan. Produk dengan efisiensi volume tinggi lebih mudah diangkut dan membutuhkan energi distribusi yang lebih rendah, sehingga turut menurunkan emisi dari proses logistik.

 

Masih bingung menentukan geotextile mana yang cocok untuk proyekmu? Kamu bisa mempertimbangkan produk geotextile woven dan non-woven dari Petra Nusa Elshada. Material geotextile Petra Nusa Elshada dirancang untuk memenuhi kebutuhan konstruksi modern dengan material ramah lingkungan, ekonomis, dan memiliki ketahanan yang sangat baik.

Selain itu, kualitas produksinya membantu proyek berjalan lebih efisien, baik dari sisi teknis maupun dari sisi pengurangan emisi karbon. Sebab, kamu bisa memasang geotextile dari Petra Nusa Elshada dengan mudah dan cepat di mana pun serta kapan pun.

Jika kamu ingin menemukan pilihan material terbaik untuk kebutuhan proyek, konsultasikan langsung dengan tim Petra Nusa Elshada dengan mengunjungi halaman berikut! Kami siap membantu memberikan rekomendasi sesuai spesifikasi lapangan dan target performa konstruksi yang kamu inginkan.

Artikel Lainnya